Minggu, 08 April 2012

Tambak 285 H mulai mengeliat


Ekonomi kerakyatan harus terus di tingkatkan untuk mensejahterakan masyarakat terutama diantaranya adalah petani tambak . hampir 7 tahun tambak luas 285 H di Tritip-Manggar Balikpapan ,Kaltim terbengkalai.

Ketika itu ada sekelompok tani berkunjung ke rumah dan menceritakan kondisi lahan tambak yang terbengkalai tersebut sepontan esok harinya saya meninjau lahan tersebut, kami exspost melaului media lokal, hampir 1/2 halaman, dan gayung bersambut, media2 lokal mengexspot kembali dengan lengkap, bahkan banyak investir dan perbankkan berdatangan melihat langsung.


Sediman tanah membuat para petani tambak tidak mampu mengolahnya, peralatannya yg dimiliki hanya manual yaitu cangkul. Dalam 1 H dengan mengolah memakai cangkul dikerjakan 7 orang baru selesai 2 bulan biaya yang dikeluarkan petani hampir 20 juta, biaya perawatan yang tinggi, bibit yang mahal tdk terjangkau oleh para petani, padahal kalau betul2 di kerjakan hasilnya luar biasa.

Dari kendala yang di alami petani tambak tersebut ada satu orang petani tambak yang gigih dan ulet yaitu pak Syamsudin, keulutannya membuahkan hasil ratusan juta rupiah per 45 hari paksyamsudin bermukim di tambak bersama keluarhganya yg jauh dari pemukiman penduduk, jauh dari listrik, jauh dari saluran PLN, jauh dari Air PDAM, jauh dari pasar, jauh dari keramian, tetapi pak samsyudin mampu menerangi rumah pondoknya dengan genzet 24 jam, bisa buat PDAM sendiri alias buat sumur bor sendiri dan dari hasil tambak bisa menyekolahkan anaknya di universitas, bisa naik haji sekeluarhga, dan punya karyawan 5 orang yang di gaji 2 juta perbulan/orang . Dan mampu menanam dan merawat magrof yang ditanam 1000 m di sekitar tambak.

Bukti keberhasilan tersebut hitungannya adalah
1 H tambak membutuhkan bibit 5 ton Kepiting dengan harga setiap 1 ton Rp. 20.000,- x 5 ton = 100 juta

Hasilnya selama 45 hari adalah 4,5 ton ( ini memakai tehnologi baru dari percobaan orang Tailan ) .Harga/kg @ 55 ribu x 4.500 kg =247.000.000,-

Pengeluaran adalah : bibit 100.000 juta , tenaga gali tambak selama 1 bulan 7 orang 20 juta, tenaga 5 0rang perbulan 10 juta. makanan untuk kepiting asoka 10 juta, biaya pembuatan karebok 50 juta TOTAL pengeluaran adalah 190 juta = pendapatan adaah 247 juta - 190 juta kurang lebih pendapatannya adalah sebesar 57 juta /45 hari (keterangan pak syamsudin pemilik tambak kepiting Asoka ). kalau 90 hari pendapatannya adalah 100 juta-an

Dengan kegigihan dan keberhasilan itulah saya mencoba membangkitkan dan memotovasi petani tambak untuk mengolah lahannya, tentu saja saya terus menyuarakan dan memprogramkan kepada pemerintah Prov untuk mensuport infrastrukturnya dan modal pengelolaannya , Peralatannya .


bantuan yang diberikan melaui Bansos 60 juta dari Prov Kaltim dan alhamdullih Pemkot Balikpapan sudah mulai menganggarkan 425 M, dan segera akan di kerjakan bulan April 2012 ini. Petani tambak Tritip mulai mengeliat ada tanda-tanda tumbuh kembali tambak tersebut. Sangat di sayangkan apabila pemkot Balikpapan dan Prov Kaltim yang APBD tahu 2012 sebesar 10, 6 T dan tahun 2013 mencapai 13 T dengan penduduk 4 juta jiwa, masih ada tanah yang produktif tidak di perhatikan. dan terus akan kami dorong pemrov dan kota untuk merealisasikan tambak tersebut produktif kembali.

Mohon maaf apabila ada kalkulasi yang kurang pas, materi ini kami dapat langsung berdiskusi dengan para petani dan pelaku petani tabak. Pasti dalam tulisan ini masih ada hal2 yang belum terakomudir. salam Dra Hj Puji Astuti , Anggota DPRD Prov Kaltim , Fraksi Partai Demokrat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar