Sabtu, 07 April 2012

PDRI Sosialisasi Bahaya Kanker Serviks

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kanker leher rahim (Kanker Serviks) telah menduduki peringkat pertama berbagai tipe kanker penyebab kematian perempuan di dunia.
PEREMPUAN harus tahu dan menyadari bagaimana cara pencegahan kanker serviks. Kesehatanlingkungan dan perilaku memegang peranan paling besar dalam meningkatkan kualitas derajat kesehatan masyarakat.

Dalam pertemuan kesehatan ibu dan anak yang dihadiri 100 perempuan di Kantor Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) Balikpapan, anggota DPRD Kaltim Puji Astuti didampingi Ketua DPC PDRI Balikpapan Sria Ardiana mengatakan, kualitas manusia di antaranya ditentukan oleh keturunan. Manusia yang sehat akan dilahirkan oleh ibu yang sehat. Ini menyangkut kesiapan perempuan sebelum perkawinan, sebelum kehamilan (pra-konsepsi), masa kehamilan, masa kelahiran, dan masa nifas. Perempuan menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya. Kesehatan perempuan secara langsung memengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
Sementara dr Agyan Reswanedro dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menjelaskan bahwa kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim (serviks) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama (vagina).
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi 95 persen kasus ditemukan HPV (Human Pappiloma Virus) positif. Kanker leher rahim merupakan kanker peringkat pertama angka kejadian kanker di Indonesia.
Pada awalnya kanker ini menyerang leher rahim, namun pada stadium selanjutnya dapat menyerang organ lain ada pada tubuh penderita. Masa pertumbuhan penyakit ini bisa dikatakan cukup lama. Masa ini disebut masa pre-invasif atau pertumbuhan sel yang tidak wajar sebelum mengganas. Perkembangannya antara 5 hingga 20 tahun lamanya, dimulai dengan tahap infeksi, kemudian disebut sebagai pre-kanker, hingga menjadi kanker serviks yang nyata.
“Untuk  mendeteksi kanker serviks ini,  ibu-ibu bisa cek kesehatan dengan Papsmear,” kata dr Agyan.
Puji Astuti menuturkan, karena  mahalnya biaya papsmear, PDRI berharap pemerintah mengalokasikan anggaran untuk  pembelian peralatan  untuk tersebut di puskesmas-puskesmas di Kaltim, khususnya Balikpapan. “Saat ini sudah ada beberapa puskesmas yang punya, kami harap jumlah ditambah lagi sehingga semua puskesmas punya,” ungkapnya (http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=128137 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar